Baru-baru ini heboh seorang awardee LPDP doktoral yang mengeluh living allowance nya kurang untuk hidup hedon nya di Australia dan menolak frugal living. Etis ga sih? Udah dibayarin pemerintah, trus mengeluh, hidup hedon pakai uang rakyat, sementara yang bersangkutan di level studi doktoral yang idealnya lebih dewasa dan bijak dalam menyampaikan pendapat. Di satu sisi, informasi tentang biaya hidup riil di Australia sebenarnya bisa sangat berguna bagi calon mahasiswa/i agar punya gambaran yang lebih realistis, dan bagi penyelenggara beasiswa untuk mengevaluasi ulang besar allowance-nya. Namun di sisi lain, cara penyampaiannya terasa kurang empatik dan akhirnya menyulut kemarahan netizen, termasuk saya (haha).
Karena saya pernah merasakan hidup pas-pasan saat kuliah di luar negeri, saya jadi ingin berbagi perspektif dan pengalaman pribadi di sini.
Pada tahun 2018-2019, saya menempuh studi magister di University of Sussex di kota Brighton, Inggris, dengan membawa satu anak berusia 4 tahun. Suami tidak tinggal penuh bersama kami; ia hanya menemani sekitar 3,5 bulan. Saya memperoleh beasiswa parsial dari kampus yang hanya menanggung sebagian tuition fee. Selebihnya (sisa tuition, biaya hidup, visa, tiket pesawat, dan kebutuhan lain) kami biayai dari tabungan pribadi. Sebagai catatan, standar biaya hidup tiga orang sebagai persyaratan visa UK saat itu berada di kisaran Rp405 juta untuk 9 bulan. Pada praktiknya, kami malah tinggal 11 bulan disana dan total tabungan kami yang habis terpakai untuk biaya hidup ‘hanya’ sekitar Rp180 juta (angka 405 dan 180 ini cuma biaya hidup ya, belum termasuk persiapan keberangkatan seperti IELTS, medcheck, visa, IHS, dan tiket pesawat di awal).
Kok bisa? Bisa, karena saya menjalani hidup sangat hemat dan seperlunya, mencari tambahan pemasukan, dan mendapat support (bukan uang) dari keluarga dan teman-teman seperantauan.
Frugal Living
Hampir ke mana-mana saya naik transportasi umum dan jalan kaki. Saya tinggal di flat one-bedroom di kampus, tetapi setiap pagi harus mengantar anak sekolah berjarak sekitar 6 km (tentang pilihan sekolah anak ini mungkin saya ceritakan di lain waktu). Kalau naik mobil mungkin hanya 15 menit, tapi kami naik bus. Dari rumah ke bus stop sekitar 1 km, lalu dari bus stop ke sekolah juga sekitar 1 km. Setelah mengantar anak, saya kembali ke kampus, lalu sore hari menjemput dengan rute yang sama. Tidak perlu gym dan yoga dengan mat Lululemon, berat badan saya turun 10 kg selama di sana. Saya naik taksi/Uber mungkin hanya 4–5 kali, saat membawa banyak koper. Karena hampir setiap hari naik bus, saya membeli 90-days unlimited student travel pass yang jauh lebih hemat.

Untuk hiburan anak, saya hampir tidak mengeluarkan biaya. Si anak bisa bermain gratis di playground, library, museum & beach (the perks of living in Brighton). Saat itu ada sekitar 15 public/community library di Brighton, dan kami datangi satu per satu. Ada juga beberapa kolam renang gratis yang buka saat musim panas. Kalau malas ke pusat kota, di sekitar kampus tersedia family rooms, playground, boardgames, dan national park! Mainan anak hampir tidak pernah beli. Tiap beberapa bulan sekali, sekolahan membagi-bagikan mainan bekas gratis. Bahkan ada satu perpus di Brighton yang tidak hanya meminjamkan buku, tapi juga mainan.

Untuk kebutuhan harian, saya belanja groceries di Aldi, yang relatif paling murah dibanding supermarket lainnya. Saya sering beli frozen food dan bumbu instan. Kuliah sambil mengurus anak sendirian sudah cukup melelahkan, jadi saya tidak punya energi untuk masak fancy. Saya masak itu sekadar bertahan hidup, bukan hobi. Saya pernah beli pakaian untuk sendiri mungkin hanya 5-6x, lebih karena kebutuhan, seperti jaket winter, sweater, dan long john. Itupun saya belinya di charity shop (seperti Oxfam) dan Primark (brand clothing yang harganya relatif rendah).
Saya sering masak dan bawa bekal. Karena tinggal di kampus, saya sering makan siang di rumah. Kalau jadwal kelas sangat mepet, saya makan bekalnya di gedung terdekat. Hampir semua bangunan di kampus menyediakan microwave dan area duduk. Pantry jurusan saya bahkan menyediakan kopi dan teh gratis, jadi saya sering ngopi di sana. Saat jalan-jalan di weekend pun, biasanya saya bawa bekal dan makan di taman atau ruang publik gratis. Saya juga sering ikut seminar atau acara kampus walaupun topiknya nggak terlalu menarik, tapi lumayan bisa makan siang gratis (biasanya sandwich dan chips) dan networking. Saya jarang banget makan di kafe atau restoran. Jadi jangan tanya rekomendasi kuliner di Brighton atau UK, saya benar-benar tidak tahu.
Exploring foods is not my interest, but seeing places is my passion. Dengan hidup sehemat itu, saya masih bisa traveling ke banyak kota di UK (London, Cambridge, Oxford, Bristol, Cardiff, Bath, Canterbury, Rye, Edinburgh, Glasgow, Liverpool, Sheffield, York, Bakewell, serta kota-kota kecil sekitar Brighton & Hove) dan ke beberapa negara Eropa (Belanda, Belgia, Prancis, Jerman, Austria, Hungaria, Slovakia, Ceko). Sebagian besar saya menginap di Airbnb, kadang hanya sewa satu kamar, jadi sesekali ketemu dan ngobrol dengan pemilik rumah. Saat traveling, makan pun seringnya bawa bekal dari pagi atau beli makanan to-go dari minimarket.
Pulang Lebih Awal
Selain dengan frugal living, strategi lainnya untuk menghemat biaya adalah… balik ke Indonesia lebih cepat. Salah satu alasan saya memilih UK adalah karena durasi S2 hanya satu tahun, lebih singkat dibanding banyak negara lain, sehingga Long Distance Marriage tidak terlalu lama. Perkuliahan berlangsung dari September 2018 sampai Juni 2019, lalu Juni–September fokus disertasi tanpa kelas. Tidak ada ujian atau presentasi disertasi, cukup submit final document via online system.
Awalnya saya ingin langsung pulang ke Indonesia bulan Juni dan mengerjakan disertasi secara remote. Namun akhirnya saya bertahan sampai Agustus agar anak menyelesaikan tahun ajaran sekolahnya dan saya bisa beberapa kali konsultasi langsung dengan supervisor disertasi. Tabungan saat itu pun masih cukup. Kami pulang bulan Agustus, lalu saya melanjutkan mengerjakan disertasi dari Indonesia dan submit disertasi online bulan September. Nggak guna juga kalau saya stay sampai September, karena supervisor saya cuti summer holiday di bulan Agustus. Semua buku dan materi di library juga bisa diakses online.
Kemudian pengumuman lulus bulan Oktober, dan wisuda bulan Januari yang tidak saya hadiri. Jujur, melihat postingan wisuda teman-teman dengan keluarga yang datang dari Indonesia sempat membuat sedih. Pengelola beasiswa bahkan mengirim email bahwa jika saya hadir wisuda, saya bisa bertemu langsung dengan donor yang membiayai studi saya (beasiswa saya berasal dari philanthropic donation). Sebenarnya memungkinkan saja kami terbang ke UK hanya untuk wisuda, tapi itu bukan prioritas saya saat itu. Prioritas saya adalah: dapat gelar dan ilmu baru, kembali berkumpul utuh sebagai keluarga, mengimplementasikan pengetahuan saya, dan mengusahakan balik modal S2 secepatnya. Jadi, kalau teman-teman S2 lainnya bisa tinggal di UK selama 1,5 tahun, saya cuma 11 bulan. Dan Alhamdulillah saya sudah mulai kerja lagi di Jakarta di bulan Desember, sebulan sebelum wisudaan.
Kerja Part Time
Sejak bulan pertama kuliah, Alhamdulillah saya diterima sebagai International Student Ambassador (ISA). Tugasnya mempromosikan kampus dan membantu calon mahasiswa/i internasional. Pembayarannya tidak bulanan, tetapi berdasarkan job. Misalnya, ada calon mahasiswa/i (beserta keluarga) yang ingin private campus tour. ISA Office akan menawarkan job ini lewat email ke semua ISA, siapa cepat dia dapat. Bayarannya berdasarkan jam kerja. Ada juga event khusus seperti open house atau phone/video calls week dengan prospective students. Semua bersifat opsional dan fleksibel menyesuaikan jadwal kita, jadi kuliah tetap prioritas utama.
Setelah semua kelas selesai di bulan Juni, dan tinggal disertasi, saya mencoba kerja part time di restoran halal (info dari mahasiswi Indonesia). Restoran tersebut milik orang Inggris keturunan India dan menjual ayam panggang piri-piri. Ada dua shift: 11.00–17.00 dan 17.00–23.00. Saya hanya bisa ambil shift siang, 3 kali seminggu di hari kerja, menyesuaikan jadwal anak sekolah. Pekerjaannya macam-macam, kecuali masak dan cuci piring: belanja bahan ke Salisbury seberang jalan, menyiapkan bahan, membersihkan meja dan kursi (kadang toilet), jadi kasir, dan mengantar pesanan.

Selain itu, mahasiswa/i S3 atau researcher di kampus sering membayar partisipan untuk eksperimennya. Pengumumannya biasa ditempel di papan-papan sekitar kampus atau di-posting di website tertentu. Saya beberapa kali ikut: dari survei psikologi dan mental health, tes mata dan buta warna, sampai hitung-hitungan. Yang paling ekstrem adalah eksperimen dari medical school untuk mengukur detak jantung saat masuk ke dalam mesin X-ray; awalnya biasa saja, tapi lama-lama saya mulai panik.
Privilege Keluarga dan Teman
Saya sadar, saya cukup privileged memiliki keluarga yang suportif, bukan dalam bentuk uang langsung.
Walaupun suami hanya menemani 3,5 bulan dengan jatah cuti karena dia tetap bekerja di Jakarta, tetapi di sisa waktu 7,5 bulan itu ada orang tua saya (1,5 bulan), mertua dan kakak ipar (2 minggu), serta adik saya (2 minggu), yang datang bergantian dengan biaya mereka sendiri. Jadi total saya berdua anak saja disana sebenarnya cuma 5 bulan.
Saat datang, mereka membawa oleh-oleh dari Indonesia, seperti mie instan, sambal, serta makanan dan minuman tradisional lainnya, yang bisa nambah-nambah bekal hidup sebulan kedepan. Waktu mereka stay dengan kami, mereka ikut membelikan makanan, groceries, dan kebutuhan kami, terutama buat anak saya, padahal saya udah bilang nggak usah. Biasa kan kakek, nenek, dan tante2 nya suka manjain.
Dengan mereka juga lah saya bisa traveling ke beberapa kota di UK dan Eropa, yang kadang penginapan dan beberapa pengeluaran lainnya mereka bayarin. Yang tak ternilai dan paling penting tentunya waktu yang mereka berikan untuk menemani anak saya, sehingga anak saya tidak merasa sendirian, dan saya bisa fokus belajar atau ke perpustakaan.
Saya juga bertemu teman-teman luar biasa: dari Indonesia, Malaysia, serta sesama pelajar Muslim dari berbagai negara. Awalnya saya sempat khawatir akan “terasing” karena hanya seorang penerima beasiswa parsial (bukan LPDP atau Chevening), tapi ternyata tidak sama sekali. Mereka sangat ramah dan saling membantu. Walau saya jarang ngumpul, dan sekalinya datang membawa “buntut” (anak saya), mereka tetap menerima, bahkan bersedia menjaga anak saya sebentar jika saya ada kelas.
Dari komunitas student parents (mahasiswa yang membawa anak), saya sering mendapat barang hibahan layak pakai: sprei, bantal, peralatan dapur, baju dan mainan anak—terutama saat mereka pulang ke negara masing-masing. Kami juga sering tukar masakan, dan gantian jagain anak-anak. Begitulah hidup merantau: meninggalkan keluarga di kampung halaman, tapi menemukan “keluarga” lain di tempat baru.

Chaos but Totally Worth It
Dengan frugal living dan faktor-faktor di atas, saya berhasil menyelesaikan studi magister di Inggris dengan beasiswa parsial dan penggunaan tabungan seminimal mungkin. Setelah beberapa kali gagal beasiswa penuh, saya udah bersyukur banget mendapatkan beasiswa parsial dan rejeki untuk menutup sisa biaya secara mandiri.
Walaupun biaya hidup riil seringkali lebih rendah dari standar persyaratan visa, saya tetap menyarankan calon mahasiswa/i menyiapkan cadangan dana sesuai ketentuan. Setiap orang punya prioritas hidup dan level resiliensi frugal living yang berbeda, jangan sampai keterbatasan dana jadi mengganggu studi. Beasiswa itu sifatnya bantuan, jadi ya wajar kalau besarannya sesuai UMR setempat. Saya yakin banyak yang perjuangan hidup di luar negeri nya lebih dar der dor lagi. Karena itu, marilah lebih berempati dan tidak merendahkan mereka (bahkan sesama wanita) yang memilih, atau terpaksa, menjalani frugal living dan makan frozen foods, apalagi kalau sendirinya berangkat studi ke luar negeri dengan dibiayai oleh masyarakat Indonesia (termasuk pajak saya T_T). Tidak, ini bukan soal iri karena yang bersangkutan dapat LPDP. Alhamdulillah, saya sendiri baru saja lulus beasiswa full LPDP 2025 tahap 2 untuk studi doktoral (ceritanya menyusul).
Studi magister di UK saya jalani di umur 33 tahun, setelah 10 tahun hidup nyaman dengan pekerjaan tetap dan pengalaman kerja di Singapura, Korea Selatan, dan Jakarta. Saya pun pernah hidup cukup hedon: kemana-mana naik mobil, beli skincare, tas, baju, kopi susu, dll. Di rumah saya punya Asisten Rumah Tangga yang masak, beresin rumah, dan ngurusin keperluan anak. Tapi saya tetap bisa tuh menjalani hidup frugal living saat di UK. Kalau memang sudah niat dan mantap mengejar mimpinya, seberat apapun tantangannya pasti bisa dijalani.
Capek ga sih menjalani frugal living untuk studi sambil jagain anak? Banget. Ada malam-malam dimana saya belajar sambil menangis diam-diam setelah menidurkan anak. Ada hari-hari dimana saya meragukan kemampuan saya.
Worth it? Absolutely.

Ada rasa bangga dan percaya diri telah berhasil melewatinya. Terlepas dari tantangan hidup dan bidang keilmuan baru yang harus saya pelajari, saya lulus dengan predikat Distinction, meraih Juara 1 kompetisi Science, Technology and Innovation Policy Challenge, dan volunteer menjadi Student Parents Representative di Sussex Students’ Union (semacam BEM/KM).
Sebagai fans berat Harry Potter, impian saya ke UK akhirnya tercapai, bukan hanya traveling, tapi benar-benar tinggal dan hidup di sana. Ilmu dan gelar S2 ini juga membuka jalan saya bekerja di international organisations seperti ASEAN, setelah bertahun-tahun di sektor swasta. Saya menemukan passion baru di bidang energy transition dan sustainable development yang saya jalani sekarang.
Bagi saya, investasi ini benar-benar layak dan terbayar, bahkan memberi manfaat jauh lebih besar dari yang saya bayangkan.
